Sabtu, 29 Februari 2020

CERPEN GUSMUS "GUS JA'FAR"

GUS JAKFAR (Cerpen Inspiratif Karya A. Mustofa Bisri)
Diantara putra-putra Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.
“Kata kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri”, cerita Kang Solihin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak tahu apa maksudnya”
“Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa,” kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, “Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bias melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, ‘Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!’. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya.”
“Kang Kandar kan juga begitu,” timpal Mas Guru Slamet, “kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, ‘Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!’ Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal.”
“Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar,” sahut Ustadz Kamil, “nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar.”
“Saya malah mengalami sendiri,” kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara, “waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, ‘Wah saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?!’ Padahal saat itu saku saya justru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi.”
“Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf ?” tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
“Mungkin saja,” jawab Ustadz Kamil, “makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu.”
***
MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
“Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu,” komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, “wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?”
“Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu,” kata Lik Salamun, “kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah.”
“Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya,” ujar Ustadz Kamil, “paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau.”
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabis wiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar, rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa keseganan, was-was, dan rasa takut.
Setelah ngobrol kesana-kemari..
akhirnya Us tadz Kamil berterus terangmengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, “Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan.”
“Perubahan apa?” tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti, “Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah.”
“Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang,” tukas Mas Guru Slamet, “kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca bahkan diminta pun tak mau.”
“O, itu,” kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama, baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: “Ceritanya panjang.” Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
“Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?” akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita, maka serempak kami mengangguk. “Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km ke arah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing.”
“Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata ketika sampai disana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk. ‘Cobalah nakmas ikuti jalan setapak disana itu,’ katanya, ‘Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?’ ‘Kiai Tawakkal.’ ‘Ya, kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.’ Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah.”
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, “Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi ‘Ahli neraka’. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila.”
“Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata kata mereka.”
“Baru setelah beberapa minggu tinggal di ‘pesantren bambu’, saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya.” “Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapakhingga ke jalan desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang.”
“Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong, saya mendekati warung terpencil dengan penerangn petromak itu. Dua orang wanita-yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit kesana-kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini, pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. ‘Mas Jakfar!’ tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuwan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyumpenuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untuk bergeser, ‘Kasi kawan saya ini tempat sedikit!’. Lalu, kepada orang- orang yang ada di warung, kiai memperkenalkan saya. Katanya: ‘Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya.’ Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh, melambaikan tangan.”
“Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kiai menawari, ‘Minum kopi ya?’ Saya mengangguk asal mengangguk. ‘Kopi satu lagi, yu!’ kata kiai kemudian kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. ‘Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaan warung ini!’ Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk.”
“Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan ‘kawan-kawan’nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab dengan orang- orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yg selama ini mengganggu saya dan karenanya..
karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadap beliau berubah. ‘Mas, sudah larut malam,” tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya, ‘kita pulang, yuk!’ Dan tanpa menunggu jawaban saya, kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui, ‘Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!’ katanya.”
“Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampaidi sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai, ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. ‘Kita istirahat sebentar,’ katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, ‘kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.’ Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, kiai berkata mengejutkan, ‘Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kau cari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?’ Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. ‘Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda ‘Ahli neraka’ di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?’ Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya, ‘Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.’ Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. ‘Ayo, kita pulang!’ tiba-tiba kiai bangkit, ‘Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.’ Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini.”
“Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal.

Indramayu 23 februari 2020
Hua bihi muhyinnidzom

Senin, 24 Februari 2020

KEISTIMEWAAN BULAN ROJAB DAN AMALAN YG BAIK DI LAKUKAN DI BULAN RAJAB

"Keberkahan Bulan Rajab"
Suatu hari Rasulullah bersama sahabatnya mendapati situasi krisis air. Hingga waktu shalat Ashar tiba, mereka yang berikhtiar mencarinya di berbagai tempat tidak berhasil memperolehnya. Air yang tersedia hanyalah air sisa yang jumlahnya tak banyak. Dalam situasi tersebut, Nabi melakukan sesuatu yang membuat orang tercengang. Rasulullah memasukkan tangan beliau ke dalam air sisa yang berada dalam sebuah wadah itu dan berseru kepada para sahabatnya, "Ayo mulailah berwudhu. Barakah datang dari Allah." Para sahabat menyaksikan di sela-sela jari Nabi memancar air. Para sahabat tak hanya bisa wudhu dengan sempurna, tapi juga menghilangkan rasa haus karena air juga bisa diminum. Kisah ini bisa kita temukan dalam 'Umdatul Qari' Syarah Shahih Bukhari.
Yang menarik dari cerita tadi adalah kata-kata Rasulullah tentang "al-barakah mina-Llâh". Kisah tersebut menunjukkan bahwa berkah bersumber dari Allah, bukan manusia, air, pohon, matahari, atau lainnya. Meskipun, objek yang diberkahi itu bisa apa saja, termasuk air dan jemari Nabi. Krisis air bukan halangan bagi para sahabat untuk beribadah, bahkan mereka bisa sekaligus menyaksikan mukjizat Nabi yang tentu kian meningkatkan keteguhan iman mereka.
Dalam Lisanul Arab, "barakah" dimaknai sebagai an-mâ' waz ziyâdah, tumbuh dan bertambah. Sebagian ulama merinci lagi bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan (ziyâdaatul khair). Kebaikan yang dimaksud tentu bukan kenikmatan duniawi, melainkan tingkat kesadaran kita kepada Allah, taqarrub ilallah. Berkah dengan demikian tidak terkait dengan banyak atau sedikitnya harta benda. Orang yang kaya raya bisa jadi tidak mendapat keberkahan hidup ketika harta bendanya justru membuatnya merasa perlu dihormati, merendahkan orang miskin, berfoya-foya, atau untuk aktivitas maksiat.
Sebaliknya, kemiskinan bisa mendatangkan berkah saat hal itu melatihnya bersabar, mensyukuri nikmat, atau bersikap baik kepada tetangga. Berkah juga tidak harus berhubungan dengan kesehatan. Sebab, kondisi sakit pun kadang bisa membuat orang instrospeksi diri (muhasabah), tobat, dzikir, dan mengingat-ingat hak-hak orang lain yang mungkin ia langgar. Meskipun, sakit pun juga bisa berbuah malapetaka ketika seseorang justru lebih banyak mengeluh, mencibir karunia Allah, atau melakukan sesuatu yang melampaui batas. Tempat yang berkah tak mesti subur, sejuk, atau yang pemandangannya indah. Buktinya Allah memberi keistimewaan kepada tanah Makkah yang gersang. Begitu pula dengan waktu. Waktu yang berkah belum tentu saat-saat hari raya atau hari berkabung. Tapi keberkahan waktu itu datang manakala segenap peristiwa di dalamnya membuat kita sekain dekat dengan Allah.
Terkait dengan berkah atau barokah, Rasulullah memberi teladan kepada umatnya untuk memanjatkan doa ketika memasuki bulan Rajab:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲْ ﺭَﺟَﺐَ ﻭَﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻭَﺑَﻠِّﻐْﻨَﺎ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)
Bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam Islam, terdapat empat bulan haram di luar Ramadhan, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Saat tiba waktu Rajab, yang Rasulullah minta adalah keberkahan bulan ini, lalu keberkahan bulan Sya’ban, hingga ia dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Saat bulan Rajab tiba, Rasulullah tidak memohon kekayaan, kesehatan, atau kenikmatan duniawi secara khusus. Beliau berdoa agar dilimpahi keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban seiring dengan menyongsong bulan Ramadhan. Secara tidak langsung, doa ini adalah permohonan panjang umur. Tentu saja bukan sekadar usia panjang, tetapi usia yang bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Inti dari berkah adalah peningkatan taqarrub kita kepada Allah, sehingga kepribadian kita diliputi oleh sifat-sifat yang mencerminkan perintah Allah: jujur, adil, rendah hati, peduli sesama, penyayang, tidak serakah, tidak gemar menggunjing atau menghakimi orang lain,dan lain sebagainya. Kita juga semakin rajin memaknai setiap aktivitas kita atas dasar nilai ibadah. Bekerja untuk menafkahi keluarga karena Allah, ikut kerja bakti tingkat RT karena Allah, bertegur sapa dengan tetangga karena Allah, dan seterusnya. Apakah kita tak boleh berdoa memohon harta atau kesehatan di bulan Rajab ini? Tentu saja boleh. Hanya saja, yang lebih penting dari banyaknya kekayaan dan kesehatan adalah berkah, yakni suatu kondisi yang mampu menambah ketaatan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Diterangkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah sendiri pernah mendoakan sahabatnya, Anas dengan pernyataan:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃﻛْﺜِﺮْ ﻣَﺎﻟَﻪُ، ﻭَﻭَﻟَﺪَﻩُ، ﻭَﺑَﺎﺭِﻙَ ﻟَﻪُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺃﻋْﻄَﻴْﺘَﻪ
Artinya: “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadanya.”
Kata berkah di sini merupakan kunci dari segenap nikmat lahiriah. Dengan keberkahan seseorang tidak hanya kaya harta tapi juga kaya hati: merasa cukup, bersyukur, dan tidak tamak; tidak hanya mementingkan kuantitas anak, tapi juga kualitasnya yang shalih, cerdas, dan berakhlak. Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Dari uraian ini jelas bahwa bulan Rajab menjadi berkah tatkala ada perkembangan dalam diri kita terkait kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah. Ketika keberkahan itu datang, secara otomatis kualitas kepribadian kita pun meningkat, baik dalam kondisi sulit maupun lapang, sehat maupun sakit, punya banyak utang maupun dilimpahi keuntungan. Keberkahan di bulan Rajab dan Sya'ban ini penting mengingat kita akan menghadapi bulan Ramadhan, bulan yang jauh lebih mulia dan berlimpah keutamaan. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa diberkahi, senantiasa diberi petunjuk, dan dipanjangkan umurnya hingga bisa menjumpai Ramadhan. Wallahu a'lam.
Nanti malam kita memasuki bulan rajab. Mari kita sambut dengan bahagia semoga kita dilimpahkan keberkahan dibulan rajab.
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ۞ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺢِ ﻟِﻤَﺎ ﺃُﻏْﻠِﻖَ ۞ ﻭَﺍﻟﺨَﺎﺗِﻢِ ﻟِﻤَﺎ ﺳَﺒَﻖَ ۞ ﻧَﺎﺻِﺮِ ﺍﻟﺤَﻖِّ ﺑِﺎﻟﺤَﻖِّ ۞ ﻭَﺍﻟﻬَﺎﺩِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻃِﻚَ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘِﻴﻢِ ۞ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﻣِﻘْﺪَﺍﺭِﻩِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴﻢِ ۩
Doa Rajab Oleh Ibu Nyai Hj. Nurhannah Pon Pes Putri Al Baqoroh Lirboyo Kediri

*AMALAN KHUSUS BULAN ROJAB*
(Insyaallah 1 Rojab jatuh pada tanggal 25 Februari 2020)
Berikut ini amalan² di bulan Rojab yg di ajarkan oleh Rasulullah Saw kepada para sholihin diantaranya:
1. Membaca sebanyak 100X setiap hari pada tanggal yg di tentukan:
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡْ .... ...Tanggal 1-10 baca 100X
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﺎَٔﺣَﺪِ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪْ .....Tanggal 11-20 baca 100X
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺅُﻭﻑْ ..... ........Tanggal 21-30 baca 100X
2. Membaca istighfar ROJAB setelah sholat shubuh dan isya' caranya: setelah salam tanpa merubah posisi duduk tahiyat akhir, langsung membaca doa dibawah ini 70X
ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨِﻲْ ﻭَﺗُﺐْ ﻋَﻠَﻲ
"Robbigh firlii warhamnii watub 'alayya"
Artinya: "Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah serta terimalah taubatku"
Manfaat:
Barang siapa yang membaca doa ini selama bulan Rojab maka ia tidak akan tersentuh api neraka, diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT sebanyak apapun dan Akan memperoleh welas asih kasih sayang Allah SWT.
3. Membaca istighfar setelah sholat Dhuhur sebanyak 70X
ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﻲ ﺍﻟﻘﻴﻮﻡ ﻭ ﺍﺗﻮﺏ ﺍﻟﻴﻪ، ﺗﻮﺑﺔ ﻋﺒﺪ ﻇﺎﻟﻢ ﻻ ﻳﻤﻠﻚ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﺿﺮﺍ ﻭ ﻻ ﻧﻔﻌﺎ ﻭﻻ ﻣﻮﺗﺎ ﻭ ﻻ ﻧﺸﻮ ﺭ
"Astaghfirullah hal adzim alladzi laa ilaaha illallahual hayyul qoyyum wa atuubu ilaihi, taubata 'abdin dzoolimin laa yamliku linafsihi dhorron wala naf'an wala mautan wala hayatan wala nusyuuro".
4. Membaca istighfar setelah sholat Ashar dibawah ini sebanyak 7X
ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺇﻻ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﻲ ﺍﻟﻘﻴﻮﻡ ﻏﻔﺎ ﺭ ﺍﻟﺬ ﻧﻮﺏ ﺳﺘﺎﺭ ﺍﻟﻌﻴﻮﺏ ﻟﻦ ﻭﻟﻮ ﺍﻟﺪﻳﻨﺎ ﻭ ﻟﺠﻤﻴﻊ ﺍ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭ ﺍﺳٔﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮ ﺑﺔ ﻭﺍﻟﻤﻐﻔﺮﻩ ﺍﻧﻚ ﺍﻧﺖ ﺍﻟﻐﻔﻮﺭ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ ﺍﻟﺘﻮﺍﺏ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ
"Astaghfirullah hal adzim alladzi laa ilaaha illallahual hayyul qoyyum ghoffaru dzunuubi sattarul 'uyubi lana waliwalidina wa lii jami'il muslimiina wa as aluhu taubata wal maghfirota innaka antal ghofuurur rohiimut tawwabul hakim"
5. Membaca doa berikut ini setiap selesai sholat fardhu selama bulan Rojab dan Sya'ban
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺭَﺟَﺐَ ﻭَﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻭَﺑَﻠِّﻐْﻨَﺎ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺍَﻋِﻨَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﻭَﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ
ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
"Allahumma baariklana fii rojaba wa sya'bana wa ballighna romadzona wa a'inna 'alash shiyami wal qiyaami wa qiroatil quraan".
(Sumber: Kitab Kanzun Najah Wassurur)

Kamis, 20 Februari 2020

ASAL USUL API DI DUNIA

ASAL USUL API DALAM LITERATUR
ISLAM
Ketika Nabi Adam As. diturunkan
ke bumi, beliau tidak lagi
memperoleh makanan secara
mudah seperti di surga. Beliau
harus bekerja keras untuk
memperoleh buah-buahan atau
daging untuk dimakan.
Ketika beliau memperoleh
binatang buruan dan
menyembelihnya, ternyata tidak
bisa langsung dimakan begitu
saja karena masih mentah dan
tentunya tidak enak. Karena itu
beliau berdoa kepada Allah agar
diturunkan api untuk memasak.
Maka Allah Swt. mengutus
Malaikat Jibril meminta sedikit api
kepada Malaikat Malik di neraka
untuk keperluan Nabi Adam
tersebut.
Malaikat Malik berkata: “Wahai
Jibril, berapa banyak engkau
menginginkan api?”
Malaikat Jibril berkata: “Aku
menginginkan api neraka itu
seukuran buah kurma.”
Malaikat Malik berkata: “Jika aku
memberikan api neraka itu
seukuran buah kurma, maka
tujuh langit dan seluruh bumi
akan hancur meleleh karena
panasnya!”
Malaikat Jibril berkata: “Kalau
begitu berikan saja kepadaku
separuh buah kurma saja.”
Malaikat Malik berkata lagi: “Jika
aku memberikan seperti apa yang
engkau inginkan, maka langit
tidak akan menurunkan air hujan
setetes pun, dan semua air di
bumi akan mengering sehingga
tidak ada satupun tumbuhan
yang hidup!”
Malaikat Jibril jadi kebingungan,
sebanyak apa api neraka yang
aman untuk kehidupan di bumi?
Karena itu ia berdoa: “Ya Allah,
sebanyak apa api neraka yang
harus aku ambil untuk kebutuhan
Adam di bumi?”
Allah Swt. berfirman: “Ambilkan
api dari neraka sebesar zarrah
(satuan terkecil, atom).”
Maka Malaikat Jibril meminta api
neraka kepada Malaikat Malik
sebesar zarrah dan membawanya
ke bumi. Tetapi setibanya di bumi,
Jibril merasakan api yang sebesar
zarrah itu masih terlalu panas,
maka beliau mencelupkan
(membasuhnya) sebanyak tujuh
puluh kali ke dalam tujuh puluh
sungai yang berbeda. Baru
setelah itu beliau membawanya
kepada Nabi Adam dan
meletakkannya di atas gunung
yang tinggi.
Tetapi begitu api tersebut
diletakkan, gunung tersebut
hancur berantakan. Tanah,
batuan, besi dan semua saja yang
ada di sekitar api itu menjadi bara
yang sangat panas, dan
mengeluarkan asap. Bahkan api
yang sebesar zarrah itu terus
masuk menembus bumi, dan hal
itu membuat Malaikat Jibril
khawatir. Karena itu ia segera
mengambil api tersebut dan
membawanya kembali ke neraka.
Bara terbakar yang ditinggalkan
itulah yang sampai sekarang ini
menjadi sumber api dunia,
termasuk yang menjadi magma-
magma di semua gunung berapi
di bumi ini. Tidak bisa
dibayangkan bagaimana
panasnya api neraka tersebut.
Kalau bara api dunia itu umumnya
berwarna merah, maka bara api
neraka itu berwarna hitam kelam,
seperti hitamnya gelap malam.
Nabi Saw. pernah menanyakan
tentang keadaan api neraka itu,
maka Malaikat Jibril berkata:
“Sesungguhnya Allah Swt.
menciptakan neraka, lalu
menyalakan api neraka itu selama
seribu tahun sehingga (baranya)
berwarna merah. Kemudian
(Allah) menyalakannya
(menambah panasnya) selama
seribu tahun lagi sehingga
(baranya) berwarna putih, dan
(Dia) menyalakannya (menambah
panasnya) selama seribu tahun
lagi sehingga (baranya) berwarna
hitam. Maka neraka itu hitam
kelam seperti hitamnya malam
yang sangat gelap pekat, tidak
pernah tenang kobaran apinya
dan tidak pernah padam
(berkurang) bara apinya.”
Sumber : Disadur dari Kisah al-
Habib Ubaidillah bin Idrus al-
Habsyi Surabaya 

Selasa, 18 Februari 2020

CERPEN GUS MUS NDARA MAT AMIT

cerpen karya KH. A. Mustofa Bisri adalah di antara karya yang menyajikan kejutan sentimentil di akhir kisah...
"Ndara Mat Amit"
cerpen : KH. A. Mustofa Bisri

Anak-anak kecil sangat takut dengan lelaki itu. Bukan saja karena tubuhnya yang tinggi besar; mukanya yang tak pernah tersenyum, dan bibirnya yang dower, tapi terutama karena kebiasaannya yang aneh. Suka mencaci dengan berteriak kepada siapa saja yang dijumpainya. tak peduli terhadap siapa saja --orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang biasa, tokoh masyarakat-- lelaki yang di kampung kami dipanggil Ndara Mat Amit itu selalu bersikap kasar.
Caci maki baginya seperti salam saja. Setiap ketemu orang, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah caci-maki atau kata-kata tidak jelas maknanya yang rupanya dia maksudkan juga sebagai cacian. Mungkin karena itu, atau mungkin juga karena tak tahu arti ndara, anak-anak tidak ada yang memanggilnya Ndara, hanya Mat Amit saja.
Semula aku sendiri juga hanya memanggilnya Mat Amit, tapi setelah dimarahi ibuku, aku ikut-ikut orang tua memanggilnya Ndara. Tak ada seorang pun yang tahu persis di mana Ndara Mat Amit tinggal. Orang-orang hanya tahu dia itu bukan penduduk asli, orang dari luar kota, tapi punya banyak kenalan di kota kami. Ada yang bilang dia dipanggil Ndara karena masih keturunan Nabi. Hanya karena ia sering datang -- hampir sebulan sekali, paling lama tiga bulan sekali-- banyak orang yang kemudian mengenalnya.
"Mat Amit! Mat Amit!" begitu teriak anak-anak bila melihat sosok raksasa itu datang. Dan anak-anak yang sedang asyik bermain itu pun buyar; berlarian ke sana kemari seperti gerombolan anak kijang melihat harimau.
Di antara yang sering dikunjungi Ndara Mat Amit adalah rumah kami. Kalau datang, ia tidak pernah lupa mampir ke rumah. Entah mengapa. Mungkin dia menyukai ayahku yang memang ramah terhadap setiap tamu. Ayah pernah menasihatiku: menghormati tamu itu merupakan anjuran Rasulullah; jadi siapa pun tamu kita, mesti kita hormati. Muslim yang baik ialah yang dapat menundukkan rasa suka dan tidak sukanya demi melaksanakan ajaran Rasulnya.
"Tapi Ndara Mat Amit sendiri tidak ramah, Yah," selaku, "bahkan menakutkan!"
"Apa yang kau takuti? Dia itu manusia biasa juga seperti kita," kata Ayah menjelaskan.
"Dia kan tidak pernah mengigit orang. Orang itu kan macam-macam tabiatnya. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang sopan, ada yang tidak. Kita sendiri memang harus berusaha menjadi orang yang lembut dan sopan, tapi kan tidak harus membenci mereka yang belum bisa bersikap begitu. Dan ingat, cung (cung, dari kacung = panggilan untuk anak kecil); penampilan luar orang belum tentu menggambarkan pribadinya, bahkan seringkali kita terkecoh kalau hanya melihat penampilan seseorang. Bukankah sering kita melihat orang yang tampaknya sopan dan halus, ternyata tabiatnya suka menghasut."
Entah karena nasihat Ayah atau mungkin karena sudah terbiasa, akhirnya aku sendiri --tidak seperti banyak kawanku-- tidak begitu takut lagi dengan Ndara Mat Amit. Memang dulu --dalam kesempatan berkunjung ke rumah-- pernah aku dipanggil Ndara Mat Amit, tepatnya dibentak, hingga gemetaran.
"Hei, kamu, bajingan, kemari!"
Aku terpaku ketakutan.
"Setan kecil! Punya telinga, tidak?" teriaknya lagi. "Aku memanggilmu, Bahlul!"
Aku pun ragu-ragu mendekat dengan kewaspadaan penuh. Pikirku, kalau dia macam- macam, mau mengampar misalnya, aku sudah siap melarikan diri. Ternyata dia merogoh saku jasnya yang kumal, mengeluarkan beberapa uang receh, dan memberikannya kepadaku.
"Ini, buat jajan kamu dan kawan-kawanmu!" katanya kasar. "Goblok! Terima!"
Ragu-ragu aku menerima pemberiannya.
"Lho, apalagi? kurang?" Dia merogoh lagi sakunya dan memberikan lagi uang receh kepadaku.
"Sekarang minggat!" teriaknya kemudian mengejutkanku.
"Cepat minggat! Monyet kecil!!!"
Aku pun berlari meninggalkannya.
Ngeri, tapi senang juga mendapat uang jajan yang cukup untuk menraktir kawan-kawan ke warung pecel De Karmonah. Ada baiknya juga orang sangar ini.
***
Sudah menjadi kebiasaan, pada bulan Maulud (Rabi'ul Awwal) Ayah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di aula pesantrennya. Dulu acaranya sederhana saja. Tidak ada ceramah-ceramah seperti sekarang. Hanya berzanjenan, membaca syair-syair madah Al-Banzanji-nya Syeikh Jakfar Al-Barzanji, untuk mengenang dan memuji Rasulullah SAW. Orang-orang bergiliran membaca dengan lagu yang berbeda-beda. Ada yang irama dan nadanya seperti lagu India, ada yang seperti lagu Melayu, ada lagu padang pasir, dsb. Bahkan ada yang menembak irama lagu Pengantin Baru. Kalau lagunya agak sulit, orang-orang yang "koor" mengikutinya agak kerepotan juga. Biasanya ada grup rebana yang mengiringi.
Dalam acara semacam ini Ndara Mat Amit tidak pernah absen hadir dengan pakaian kebesarannya yang khas:sarung plekat, jas yang berkantong besar; peci torbus merah, dan sepatu dengan kaos kaki tebal. Dia kelihatan paling bersemangat menyahuti syair-syair yang dilagukan.Seperti sosoknya, suaranya juga paling menonjol. Keras, sember; dan sumbang; membuat anak-anak muda menahan senyum dan anak-anak kecil cekikikan campur takut.
Tidak seperti biasanya, dalam acara seperti itu, Ndara Mat Amit tidak peduli; dia tetap asyik menyahuti shalawat Nabi dengan serius dan sepenuh hati. Sampai suatu ketika, pada acara Mauludan seperti itu terjadi peristiwa yang menarik. Pada saat asyraqalan, di mana semua yang hadir berdiri sambil melantunkan shalawat mulai dari Thala'al Badru 'alainaa ... Ndara Mat Amit tampak menunduk-menunduk sambil menangis meraung-raung. Sementara di bagian lain terlihat pemandangan yang serupa: Pak Min, kusir dokar yang biasa mengantar Ayah bila bepergian agak jauh, juga menunduk-menunduk sambil menangis, meski tidak sekeras Ndara Mat Amit. Tentu saja sikap kedua orang itu menarik perhatian sekalian yang hadir. bahkan setelah selesai acara berzanjenan, pada waktu acara makan bersama, kulihat Ayah mendekati Pak Min dan menanyainya, "Kang Min, tadi waktu asyraqalan aku lihat kamu kok menunduk-nunduk sambil menangis. Mengapa?"
"Lho, apa Kiai nggak pirso tadi itu Kanjeng Nabi rawuh?" Kang Min balas bertanya sambil berbisik.
"Lho, masak iya, Kang Min?" ayah seperti kaget.
"Aku kok nggak melihat."
"Kusir samber gelap!" tiba-tiba suara geledek Ndara Mat Amit menyambar. "Begitu saja ente pamer-pamerkan, Min, Min! Dasar kusir kucing kurap!"
"Siapa yang pamer, Yik (Yik berasal dari Sayyid = panggilan untuk orang Arab di Jawa)?" sahut Pak Min. "Aku kan ditanya Kiai. Memangnya aku mesti diam saja ditanya Kiai?"
"Kusir tengik, tak tahu malu!"
"Kau ini, Yik, yang tak tahu malu!" sergah Pak Min dengan berani, membuat orang-orang tercengang.
"Dari dulu nggak capek-capeknya pakai topeng monyet. Sudahlah, Yik, yang wajar-wajar saja! Untuk apa pakai topeng segala! Ente pikir, dengan pakai topeng monyet begitu ente bisa menyembunyikan diri ente? kusir dokar saja tahu siapa ente sebenarnya."
Orang-orang mengira Ndara Mat Amit akan meradang dan menerkam atau setidaknya menyumpahi Kang Min habis-habisan. Ternyata tidak. Ndara kita ini malah menunduk dan tak lama kemudian, "Assalamu'alaikum!" katanya memberi salam kepada semua, dan --lho!-- ditinggalkannya majlis begitu saja.
Dari kejauhan masih terdengar lamat-lamat umpatannya, "Kusir edan!" Sejak itu, Ndara Mat Amit menghilang. Tak pernah lagi datang ke kota kami. Demikian pula Pak Min. tak lama setelah kepergian Ndara Mat Amit, Pak Min pamit kepada Ayah dan menyerahkan dokar dan kudanya. Katanya mau pulang ke desanya, tapi setelah itu tak pernah kembali.
"Dua orang itu," kata Ayah saat aku mintai penjelasan, "Sayyid Muhammad Hamid --yang dikenal sebagai Ndara Mat Amit-- dan Kiai Mukmin --yang biasa dipanggil Pak Min atau Kang Min-- sebenarnya sama-sama memakai topeng. Artinya keduanya ingin menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya agar tidak dikenali orang. Keduanya ingin tampak awam, bahkan hina, di depan umum. Yang satu dengan berlagak kasar tak tahu sopan; yang satunya lagi bersembunyi dalam pekerjaannya sebagai kusir. Dulu banyak orang saleh yang menyembunyikan diri seperti itu, bahkan ada yang berpura-pura gila. Ada yang melakukan hal itu karena khawatir didekati penguasa; ada yang tak mau kehilangan kenikmatan sebagai hamba yang papa di hadapan Allah, ada juga yang semata-mata karena takut hatinya terserang ujub."
"Tapi, seperti kau ketahui, takdir mempertemukan kedua tokoh bertopeng itu dan tanpa sadar topeng-topeng mereka terlepas. Keistimewaan mereka pun terlihat oleh kita. Kamu lihat waktu berzanjenan itu: dari sekian banyak kiai, tak ada seorang pun yang melihat kehadiran Rasulullah, juga Ayah. Hanya mereka berdua. Itu waAllahu a'lam, merupakan tanda bahwa hati mereka memang bersih. Hanya mereka yang mempunyai hati bersih, yang dapat melihat alam malakut dan roh suci nabi. Ayah yakin mereka berdua tak akan pernah kembali kemari, selamanya. Wali mastur, yang menyembunyikan kesalehannya, selalu menghilang bila ketahuan umum."
Rembang, 3 Ramadan 1423

SANAD ILMU PONPES API TEGALREJO

SANAD ILMU TEGALREJO

Berikut ini adalah urutan sanad ilmu yang dibawa secara turun-temurun dari Alloh swt sampai kepada guru kita.
.
Hal ini perlu disampaikan mengingat semakin banyak aliran atau orang yang menyebarkan ilmunya tanpa sanad guru yang jelas.

1. Alloh ‘Azza wa Jalla
2. Malaikat Jibril
3. Nabi Muhammad saw (571-632 M/wafat 11 H)
4. Abdullah bin Abbas (619 M- 687 M )
5. Atho ‘ bin Abi Rabbah (644 M- 732 M)
6. Abdul Malik bin Juraij (699-767M)
7. Muslim bin Khalid az-Zinji(717-795M)
8. Muhammad bin Idrisasy-Syafi’i (767-819M)
9. Isma’il bin Yahya al-Muzani(791-877M)
10. Sa’id bin Utsman bin Basysyar al-Anmathiy
11. Ahmad bin Syuraij (306H/918M)
12. Abu Ishaq al-Marwaziy (899M-951M)
13. Abu Zaid al-Marwaziy (371H/981M)
14. Imam Qoffal as-Shoghir (939M-1026)
15. Abu Muhammad bin yusuf 1046M
16. Imam Haramain/Abu Abdillah bin Yusuf al-Juwainiy (1028-1085M)
17. Imam Ghazali (450-505 H)
18. Abul Fadhl Muhammad bin Yahya
19. Abdul Karimar- Rofi’i
20. Abul Ghoffar bin AbdurRohman al-Qozwainy
21. Muhammad bin Muhammad
22. Sallar al-Ardabiliy
23. Muhyiddin an-Nawawi (wafat 662 H)
24. ‘Alauddin Ibrahim al-‘Ath-thar
25. Abdurrahman al-‘Iraqi
26. Ahmad al-‘Iraqi
27. IbnuHajar al-Asqolani
28. Zakariya al-Anshori (823-926H/1420-1520M)
29. Ibnu Hajar al-Haitami (900 H / 974 H)
30. Syaikhul Islam Nuruddinaz-Ziyadi
31. Syaikh Sulthon bin Ahmad al-Muzakhi
32. Abdul Lathif al-Bisybisyi
33. Syihab al-Khulaifiy
34. Muhammad bin Salim al-Hifni(1688-1767)
35. Asy-Syarqowi (1737-1812)
36. Sayyid Zaini Dahlan (1232- 1304 H / 1816-1886 M)
37. Sayyid Bakri Syatho’ Ad-Dimyathi (1266-1310 H / 1849-1892 M)
38. Mahfudz at-Turmusi (1285-1338 H / 1868-1920 M)
39. Mbah Baidlowi Lasem dan Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari Jombang (1899-1947)
40. KH. Chudlori (1944-1977 M)
41. KH. Abdurrohman Chudlori (1977-2011) M), Bapak Ahmad Muhammad (2009).
42. KH. Mudrik Ch & KH Chanif Ch (2011-Sekarang)
43. KH. Munjid masduki (2019), KH. Ah. Zuhri Ainani, KH. Ahim Maghozie, KH. Gus. Azun Mauzun, MasGus. Ustadz Agus Malik (ponpes Al Qur'aniyah), KH. Farid asher wadaher (ponpes salaf An Nur)

Semoga bermanfaat


NU tentang PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam, sebagai hasil keputusan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama tahun 1983 di Situbondo, sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia adalah prinsip fundamental namun bukan agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.
2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara menurut pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.
4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan kewajiban agamanya.
5. Sebagai konsekuensi dari sikap tersebut di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.
Merujuk pernyataan KH. Achmad Siddiq, Peletak Dasar Khitthah NU: “Nahdlatul Ulama menerima Pancasila menurut bunyi dan makna yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 (bil lafdhi wal ma’nal murad), dengan rasa tanggung jawab dan tawakkal kepada Allah.”

Jakarta 13 februari 2020

Ust agus malik

Jumat, 14 Februari 2020

5 DAWUH KH. ABDURRAHMAN CH TEGALREJO DAN KEKAGUMAN KH. NURUL HUDA KEPADA MBAH DUR

5 Dawuh KH. Abdurrahman Ch tegalrejo dan kekaguman yai Nurul Huda Djazuli ploso tentang kehebatan kyai dur garjo :

Dawuh yai dur :
1. Tetenger kiyamat : Ngaji do pinter neng ora gelem ngamal, do asih asihan nganggo cangeme tapi atine bendon bendonan (lamis), peseduluran soyo renggang.
(Tanda2 kiamat adalah cerdas dalam ilmu pengetahuan tapi tidak mau mengamalkan, saling memuliakan dengan mulutnya/di depan tapi dalam hatinya merendahkan (lambe lamis), silaturrahmi "bertemu, bersalaman" semakin berkurang)

2. Kabeh kudu berjuang ngurip urip agomo islam. Seng ngalim berjuang nggo ngilmune. Seng sugeh nggo bandane. Sung kuwat nggo kekuatane.
(Semua muslim "khususnya aumni/mutakhorijin tegalrejo" harus berjuang menghidupkan/dakwah agama islam. Yg alim berjuang dengan ilmunya. Yg kaya berjuang dengan hartanya. Yg punya tenaga berjuang dengan tenaganya.)

3. qur an di zaman akhir meng di woco neng ora  di renungi lan di amalke.
(Al quran du zaman akhir itu cuma di baca. Tidak di fahami dan di amalkan isinya)

4. Okeh seng dandani dunyane, sitik seng dandani agomone.
(Banyak yg memperbaiki kehidupan dunia supaya lebih baik, tapi sedikit sekali yg memperbaiki kehidupan agama/untuk kehidupan akhiratnya)

5. Penyakite kiayi iku khasud iri.
(Penyakit orang alim adalah rawan mempunyai sifat hasud dan iri)

Kekaguman KH.NURUL HUDA PLOSO:
"Mbah dur (NGGARJO) iku di undang nandi nandi nindaki, tapi ngaji ora prei, bentuk kyai ngeneki seng angel di tiru, kerono tugas pokoke kiai iku ngaji, nindaki undangan njih penting, alhamdulillah mbah dur saget ngoten niku"

"KH. Abdurrahman Ch tegalrejo itu kalau di undang pengajian/acara apapun beliau menghadiri acara tersebut. Tapi mengajar di pondok pesantren tidak libur (ditinggalkan), kapasitas kyai seperti inilah yg sangat susah untuk ditiru. karna tugas pokok seorang kyai adalah mengajar santri santri/mulang, menghadiri undangan/pengajian juga penting. Dan alhamdulillah mbah kyai dur bisa seperti itu"

Kagem KH. Abdurrahman Ch al fatihan..

Wallahu a'lam

Yogyakarta 7 februari 2020